Kalah karya S.T.K
Ia dijemput keheningan
Sosok asing yang berpakaian hitam.
Rapih raganya, dingin pesonanya
Ringkih auranya.
Dengan tenang tangan ini digenggam.
Lari menjauh menjejaki jalanan.
Jiwa pincang, kaki tetap melaju kencang
Tertatih-tatih dengan kecewa yang pedih.
Luka, tidaklah pernah sehat.
Menyengat, mengigit dengan sakit yang teramat.
Luka, selalu menghadiahkan sepotong sekat.
Tembok menjulang berlapis ego yang agung,
Amarah yang menggunung, tak berujung.
Kepala ini terendam.
Jauh menuju palung sesal yang paling dalam.
Mengucap kata yang tak semestinya.
Menyulut bahagia, merajut lara.
Di kedua bola mata itu
Mendung telah berkumandang
Mengandung air, mengundang banjir.
Tumpah ruah.
Tak terbantah.
Ada sepasang tangan yang bisu
Sebab yang satu menarik begitu terlalu
Sedang yang satu berusaha meneriakkan pergi dengan menggebu-gebu
Terpisah di antara mulut pintu, keduanya membatu.
Satu menunggu, untuk diketuk kembali pintu.
Lainnya menggerutu, mengutuk diri sendiri ataupun yang sedang berada di balik pintu.
Sejak saat itu,
Pulang bukanlah lagi sebuah alasan untuk hal yang indah.
Pulang, hanyalah tempat bagi harapan indah yang telah musnah.
Pulang hanyalah tempat memutar kembali ingatan atas ingkar yang dipaksa untuk mekar.
Keduanya patah, keduanya salah.
Keduanya kalah.
(s.t.k)
Sosok asing yang berpakaian hitam.
Rapih raganya, dingin pesonanya
Ringkih auranya.
Dengan tenang tangan ini digenggam.
Lari menjauh menjejaki jalanan.
Jiwa pincang, kaki tetap melaju kencang
Tertatih-tatih dengan kecewa yang pedih.
Luka, tidaklah pernah sehat.
Menyengat, mengigit dengan sakit yang teramat.
Luka, selalu menghadiahkan sepotong sekat.
Tembok menjulang berlapis ego yang agung,
Amarah yang menggunung, tak berujung.
Kepala ini terendam.
Jauh menuju palung sesal yang paling dalam.
Mengucap kata yang tak semestinya.
Menyulut bahagia, merajut lara.
Di kedua bola mata itu
Mendung telah berkumandang
Mengandung air, mengundang banjir.
Tumpah ruah.
Tak terbantah.
Ada sepasang tangan yang bisu
Sebab yang satu menarik begitu terlalu
Sedang yang satu berusaha meneriakkan pergi dengan menggebu-gebu
Terpisah di antara mulut pintu, keduanya membatu.
Satu menunggu, untuk diketuk kembali pintu.
Lainnya menggerutu, mengutuk diri sendiri ataupun yang sedang berada di balik pintu.
Sejak saat itu,
Pulang bukanlah lagi sebuah alasan untuk hal yang indah.
Pulang, hanyalah tempat bagi harapan indah yang telah musnah.
Pulang hanyalah tempat memutar kembali ingatan atas ingkar yang dipaksa untuk mekar.
Keduanya patah, keduanya salah.
Keduanya kalah.
(s.t.k)

Komentar
Posting Komentar